Suatu siang di Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Warga, termasuk anak-anak, di salah satu rukun warga perkampungan nelayan, mengantre makanan di sebuah rumah. Mereka menjadi sasaran perbaikan gizi.
Ada kisah perjalanan dari para pemilik korporasi, wirausaha sosial, relawan, hingga warga yang menerima makanan tersebut.
Sejak pagi, beberapa relawan yang tinggal di wilayah itu telah menyiapkan makanan yang dibawa Foodbank of Indonesia (FoI), salah satu wirausaha sosial. Mereka memanaskan makanan dan susu, kemudian membuat pengumuman dan membagi makanan bagi warga.
Mereka terus bekerja hingga semua warga lanjut usia dan anak-anak mendapatkan makanan. Saat kegiatan itu usai, relawan yang semuanya perempuan itu merapikan kembali keranjang dan tempat makanan.
”Puas, sudah selesai. Kami di sini bergotong royong menyediakan makanan yang dibawa Foodbank of Indonesia. Kami sukarela bekerja. Senang rasanya jika semua lansia dan anak-anak telah mendapat makanan. Bantuan seperti ini sangat bermanfaat bagi warga,” tutur Eko Winarti, salah seorang relawan yang juga ketua posyandu setempat.
Cucu Awaliyah, relawan lainnya, bercerita, ada beberapa anak di kampung itu yang kekurangan makanan bergizi. Atas inisiatif warga, mereka menjadi relawan untuk memanaskan ulang makanan dan membagikan makanan bagi warga setempat. Para relawan juga mengantarkan makanan untuk lansia yang sakit dan tidak bisa ke luar rumah.
Hari itu, Annisa Ihtiarina dan Fajar Haikal, karyawan FoI, mengambil makanan dan susu dari markas mereka di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Setiap minggu mereka membawa makanan itu ke sejumlah titik sasaran. Pembagian ini dilakukan setelah ada tim yang mengecek makanan dari sisi higienis dan keamanan pangan.
”Kami hanya menyalurkan bantuan berupa makanan yang berlebih dari bapak dan ibu atau perusahaan. Mereka yang terlibat mulai dari perorangan hingga berbagai perusahaan. Kami menyadari, masalah kekurangan makanan bergizi adalah masalah besar Bangsa ini,” kata CEO FoI Hendro Utomo.
FoI berdiri pada 2015. Ada beberapa program yang dilakukan lembaga ini, menyasar wilayah yang membutuhkan bantuan peningkatan gizi dan sekolah. Intinya, mereka menyadari, berdasarkan Laporan Gizi Global 2014, Indonesia adalah salah satu dari 31 negara yang mungkin tidak akan bisa mencapai target global untuk menurunkan angka kekurangan gizi pada 2025.
Untuk itu, mereka menampung makanan berlebih dari perorangan, misalnya di acara pesta pernikahan atau perusahaan. Selama ini, makanan yang berlebih tak termanfaatkan dengan maksimal. Dengan keberadaan FoI, makanan berlebih didistribusikan ulang kepada warga yang membutuhkan.
Bahu-membahu
FoI bekerja bahu-membahu dengan sejumlah perusahaan untuk mengatasi persoalan ini, dengan keyakinan dapat membantu warga yang kekurangan gizi. FoI bekerja di beberapa tempat di Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Perusahaan yang terlibat antara lain Bridestory, JNE Express, Papertech, BreadLife, dan Go-Jek. Ada pula sejumlah pendengar radio yang membantu FoI melalui acara penggalangan dana.
”Awalnya saya bertemu dengan FoI yang mengabarkan kalau banyak anak yang berada di bawah garis merah atau kekurangan gizi. Saya bertanya, apa yang bisa kami bantu? Di tempat kami ada makanan yang tidak bisa dijual pada hari yang sama. Sementara, prinsip kami, membuat dan menjual roti pada hari yang sama. Makanan ini sangat masih layak seusai dipajang di beberapa toko kami,” kata Head of Marketing and R&D PT Dunia Makmur Jaya, produsen roti BreadLife, Andrew.
Disepakati, setiap malam, FoI mengambil roti itu di beberapa titik penjualan BreadLife, lalu menyimpannya di fasilitas berpendingin di FoI. Keesokan harinya, FoI membagikan roti itu di tempat pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak.
Andrew mengakui, program FoI telah tepat sasaran, setelah turun ke lapangan dan melihat proses kerja FoI. BreadLife siap bekerja sama di kota-kota lain.
Papertech adalah perusahaan yang memproduksi kertas, yang dimiliki Jose Luis Artiga yang berkebangsaan Spanyol. Artiga selalu rindu membantu sesama sesuai kemampuan perusahaan, seperti membantu anak-anak yang menderita kelaparan.
”Pemilik perusahaan ini selalu berkata, operasi pabrik harus tidak merugikan warga setempat, tidak mencemari lingkungan, dan harus ada kontribusi ke lingkungan. Kami bertemu FoI dan, setelah kami kaji, cocok dengan program perusahaan. Sejak tahun lalu kami bekerja sama,” kata Direktur Utama Papertech Erfan P Santoso. Papertech membantu pendanaan.
Perusahaan logistik JNE Express terlibat dalam program FoI karena merasa nilai-nilai mereka sejalan dengan FoI. Mereka tak hanya mengirimkan barang, tetapi menghubungkan kebahagiaan. ”Pemilik perusahaan ini berprinsip, kita harus memberi. Kita tidak bakal kesusahan dengan memberi. Selaras dengan prinsip pemilik, kami sangat tertarik dengan ide FoI, yaitu mendistribusikan ulang makanan,” kata Vice President Marketing JNE Express Eri Palgunadi.
Kerja sama yang melibatkan sejumlah pihak ini turut menyelesaikan sebagian masalah di masyarakat. Mereka melakukan hal nyata, bukan hanya menggerutu. Mereka menyalakan lilin harapan akan generasi yang lebih baik di tengah berbagai masalah.
Sumber : Kompas 18 Februari 2018
Sumber : Kompas 18 Februari 2018
Comments