Beberapa waktu belakangan, saya merenungkan beberapa obrolan dan kejadian acak pernah saya alami. Menariknya, dari obrolan santai di warung hingga drama hukum di televisi, ada satu kesamaan yang menggelitik bahwa kita sebagai manusia ternyata luar biasa genius dalam mencari pembenaran atas kesalahan kita sendiri. Mari kita pinggirkan sejenak teori-teori rumit. Cukup luangkan waktu sebentar untuk melihat empat cerita sederhana ini. Antara Rezeki dan Ujian Cerita pertama tak sengaja saya dengar di sebuah warung. Sang penjual bercerita kepada temannya tentang "keajaiban" doa yang baru saja ia alami. Suatu hari, saat sedang terdesak kebutuhan uang, ia berdoa kepada Tuhan. Beberapa hari kemudian, sebuah ponsel milik pelanggan tertinggal di warungnya. Setelah ditunggu beberapa hari dan tak kunjung diambil, ponsel itu pun ia jual untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan semringah, ia menyebut uang hasil penjualan itu sebagai rezeki dari Tuhan. Logika yang menarik. Ketika garis antara ber...
Saya mencuri dengar, seorang ibu yang mengirim anaknya kuliah ke luar negeri berpesan kepada si anak, ”Enggak usah pusing harus pulang. Cari kerja saja di sana, bahkan tinggal di sana. Di sini belum tentu ilmumu kepakai, belum tentu dihargai.” — KITA sudah sering mendengar kisah semacam ini, tanpa perlu menunjuk satu per satu kasus. Kita mungkin akan semakin sering kehilangan anak-anak semacam itu. Kalaupun ada yang kembali, kekhawatiran si ibu mungkin betul akan terjadi: ilmunya tak terpakai dan si anak banting setir mengerjakan apa saja demi mengisi perut. Di warung kopi, sekelompok teman lama sedang ramai berbagi kisah setelah lama tak berjumpa. Mereka menceritakan repotnya memasukkan anak ke sekolah negeri. Repotnya berurusan dengan rumah sakit mempergunakan BPJS. Penat badan tiap hari melaju dari rumah ke tempat kerja, dua hingga tiga jam perjalanan pakai motor. Satu kawan tak banyak bicara. Ia tersingkir dari perbincangan. Kenapa? Karena ia tak memiliki masalah-masalah itu. Anakn...