Skip to main content

Posts

Mereka Pernah Diculik Tim Mawar

Mugiyanto, salah satu korban penculikan, tak kaget jika beberapa penculiknya kini menjadi jenderal. Sebab menurutnya, pengadilan militer yang mengadili anggota Tim Mawar tidak bisa diharapkan fair dan terbuka. tirto.id - Mugiyanto tersenyum. Wajahnya datar ketika mendengar bahwa empat perwira anggota Tim Mawar yang dulu menculiknya, kini telah menjadi jenderal. Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang kini aktif di Infid (International NGO Forum on Indonesian Development ) itu mengaku tak kaget. “Sebenarnya saya tidak kaget dengan kenaikan pangkat yang mereka alami. Mengapa tidak heran dan kaget? Karena dari awal pengadilan militer yang menghukum Tim Mawar bukan benar-benar pengadilan yang fair dan terbuka,” kata Mugiyanto kepada tirto.id, saat ditemui di Komnas Perempuan, pada Kamis (25/8/2016). Mugiyanto diculik di Rumah Susun Klender, pada 13 Maret 1998. Ia adalah satu dari sembilan korban penculikan yang dilepaskan. Mereka adalah Desmond J Mahesa, Pius Lustrilanang, F...

SOEHARTO INC.

Naskah ini diterjemahkan oleh UTT (Urgent-Translator Team) dari laporan utama Majalah TIME edisi 24 Mei 1999, SOEHARTO INC. yang ditulis John Colmey dan David Liebhold. Terjemahan dalam bahasa Indonesia ini diterbitkan International NGO Forum on Indonesia Development (INFID), Solidaritas Perempuan (SP), dan Indonesia Corruption Watch (ICW) pada Juni 1999. Untuk kepentingan publik, tulisan ini dapat digandakan dan disebarluaskan secara bebas kepada masyarakat sebagai respons atas menghilangnya majalah TIME edisi 24 Mei 1999 dari pasaran. (1) Perusahaan Keluarga KETIKA tiba masa akhir Suharto, presiden Indonesia terlama, ia hanya nampak pasif. Sementara para mahasiwa dan massa rakyat yang marah turun ke jalan-jalan, dan disambut dengan tembakan dan gas air mata; jendral berbintang lima itu mundur ke belakang sambil mencoba menata segala sesuatunya dengan baik. Ketika ia akhirnya turun tahun lalu, ia hanya berdiri menyingkir ke sebelah, sementara B.J Habibie mulai diambil sumpahn...

Kanak-Kanak Yang Bengis

Oleh A.S. LAKSANA PADA suatu hari di bulan Mei 1212, seorang anak gembala berusia dua belas tahun muncul di Saint-Denis. Dia menghadap Raja Philip II di istananya, membawa sepucuk surat untuk raja Prancis itu, dan mengatakan bahwa surat tersebut diantarkan sendiri oleh Yesus, yang datang menemuinya saat dia sedang menggembalakan ternak dan memintanya untuk pergi ke Jerusalem guna memimpin Perang Salib karena orang-orang dewasa telah gagal menjalankan urusan mereka. Raja tak memedulikan ucapan bocah itu, tetapi Stephen, si anak gembala, begitu meluap gairahnya setelah perjumpaan dengan lelaki misterius di padang gembalaan dan kini menganggap dirinya sebagai pemimpin perang suci yang akan membawa kejayaan bagi agamanya. Dia berkhotbah dari satu tempat ke tempat lainnya dan para pengikutnya terus bertambah, semuanya kanak-kanak di bawah dua belas tahun. Raja tak memedulikan ucapan bocah itu, tetapi Stephen, si anak gembala, begitu meluap gairahnya setelah perjumpaan dengan lelaki...

Kode Beras dan Sepotong Gorong-gorong

Berhubung artikelnya puaanjang buangeeeeeet, langsung dibaca sendiri ya... Bagi Pepi Fernando, Gereja Christ Cathedral di Kompleks Summarecon Serpong, Tangerang Selatan, Banten, sungguh menarik hati. Gereja Protestan ini berdiri megah, mampu menampung 3.000-an anggota jemaat. Di gorong-gorong depan gereja, melintas pipa gas-terlihat dari patok-patok penanda berwarna kuning. Jalur gas terlihat menyeberangi Sungai Cisadane, di sebelah kanan gereja. Di terik siang akhir pekan pada awal April lalu, Pepi-dicokok polisi Kamis dua pekan lalu karena dituding memimpin jaringan penebar teror bom buku-dan temannya sejak kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Hendi Suhartono alias Jokaw, mengamati-amati gereja. Berboncengan menggunakan Yamaha Mio dari rumah Jokaw di Gunung Sindur, Bogor-sekitar 20 kilometer menuju Serpong-mereka menyigi target pengeboman. "Nama gereja saya peroleh dari Internet," kata Pepi kepada polisi seperti dikisahkan sumber Tempo. Siang itu...

PDF Unlocker

PDF adalah format yang umum digunakan dalam pertukaran dokumen di internet, namun pernahkah Anda dibuat kesal karena tidak bisa mencetak dokumen tersebut? Anda mungkin berpikir ada masalah dengan printer Anda. Padahal yang sebenarnya terjadi, file tersebut oleh pembuatnya memang sengaja untuk tidak bisa dicetak sebagai hard copy. Nah, untuk mengatasi hal ini, Anda bisa menggunakan PDF Unlocker . Hal yang paling menyenangkan dari software ini adalah bebas biaya beli alias gratissss. Jika Anda tertarik silakan klik sini . PDF Unlocker is a simple and useful application that will remove the password and restrictions on any PDF file that you can read. There are two types of passwords that can be used in a PDF file. 1. A password that restricts some functions. Such as printing, copy & paste. This is the most common type. {Owner} 2. A password to open the file for reading. {User} Using this application is very simple. After installation: To remove type 1, that is printing, copy ...

30 September

30 September 1965. Tanggal yang selalu dikenang sebagai salah satu hari kelam dalam sejarah Indonesia. 45 tahun berlalu namun masih banyak kontroversi yang mengiringi peristiwa yang dikenal dengan nama Gerakan 30 September itu. Desember tahun lalu, ketika sejarawan masih berdebat mengenai latar belakang dan siapa yang menjadi dalang peristiwa tersebut, dalam laporan akhir tahunnya, Kejaksaan Agung melarang buku berjudul Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karangan John Roosa. Pelarangan ini sempat menjadi perdebatan, setelah lebih 10 tahun bangsa kita menjalani babak baru dalam hal kebebasan berpendapat. Saat ini, saya tidak mengajak Anda berpolemik mengenai pendapat siapa yang benar dalam peristiwa tersebut. Namun saya yakin bahwa untuk menyusun sejarah harus diungkap dengan semua bukti dan fakta yang ada. Biarlah para sejarawan yang menentukan peristiwa versi mana yang paling benar sehingga ke depan, kita bisa belajar dari semua kejadian pernah kita alami...

Luar Biasa

Artikel ini dikutip dari Majalah Mingguan Hidup No 37, 12 September 2010. Terus terang saya bingung harus menuliskan apa sebagai pengantar Anda membaca artikel ini. Satu hal yang perlu Anda diketahui bahwa artikel ini terbit sebelum kejadian di Ciketing terjadi. Satu peristiwa yang akhirnya membuka mata kita semua akan realitas yang ada di negara yang hingga saat ini membanggakan kebhinnekaan dan ke-Tuhanan. Salam. Angka statistik manapun mudah untuk menunjuk bahwa dalam himpunan beberapa bulan terakhir ini gangguan, serangan, pembatalan ijin terhadap sejumlah rumah ibadat kelompok Kristen dan Katolik di wilayah Jabotabek meningkat dengan pesat. Tentu kita tidak gembira dengan angka statistik ini. Justru sebaliknya, kita makin prihatin bahwa kewajiban untuk melaksanakan Sila Pertama dari Pancasila "KeTuhanan Yang Maha Esa", mendapat tentangan justru dari mereka-mereka yang sehurusnya juga mengamalkan sila yang sama. Mungkin saja banyak pihak tak lagi merasa terikat denga...