Skip to main content

Seni Menipu Hati Nurani

Beberapa waktu belakangan, saya merenungkan beberapa obrolan dan kejadian acak pernah saya alami. Menariknya, dari obrolan santai di warung hingga drama hukum di televisi, ada satu kesamaan yang menggelitik bahwa kita sebagai manusia ternyata luar biasa genius dalam mencari pembenaran atas kesalahan kita sendiri.

Mari kita pinggirkan sejenak teori-teori rumit. Cukup luangkan waktu sebentar untuk melihat empat cerita sederhana ini.

Antara Rezeki dan Ujian

Cerita pertama tak sengaja saya dengar di sebuah warung. Sang penjual bercerita kepada temannya tentang "keajaiban" doa yang baru saja ia alami.

Suatu hari, saat sedang terdesak kebutuhan uang, ia berdoa kepada Tuhan. Beberapa hari kemudian, sebuah ponsel milik pelanggan tertinggal di warungnya. Setelah ditunggu beberapa hari dan tak kunjung diambil, ponsel itu pun ia jual untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan semringah, ia menyebut uang hasil penjualan itu sebagai rezeki dari Tuhan.

Logika yang menarik. Ketika garis antara berkah dan keserakahan menjadi kabur, sebuah pertanyaan mendasar pun muncul: apakah itu benar-benar rezeki yang dikirim Tuhan, atau justru sebuah ujian kejujuran yang gagal ia lewati?

Kita sering kali begitu kreatif. Kemalangan orang lain dengan mudahnya kita sulap menjadi "rezeki" demi menenangkan hati nurani saat mengambil sesuatu yang jelas-jelas bukan hak kita.

Si Raja Kecil

Cerita kedua datang dari balik kemudi taksi online. Sang sopir, seorang mantan mahasiswa penerima beasiswa universitas swasta ternama yang memilih drop out di semester tiga, memamerkan "kejayaannya" sepanjang jalan.

Sempat bangkrut, kini dalam tiga tahun ia sudah punya tiga mobil—satu tunai, sisanya kredit—dan bersiap menambah satu lagi. Pelanggannya bukan orang sembarangan, melainkan para pejabat yang royal memberi tip ratusan ribu.

Di jalanan, ia merasa seperti raja. Jalur busway dilewatinya, pelat nomor dinas bisa digonta-ganti sesuka hati. Ditilang atau tersandung kasus? Ia sama sekali tak gentar. Senjatanya cuma satu kalimat: "Saya kenal banyak pejabat."

Sepanjang perjalanan, ia mengumbar semua trik kotornya dengan dada membusung penuh kebanggaan.

Melihat sepak terjangnya yang begitu mendewakan relasi kuasa, mungkin hanya ada satu kekurangan kecil agar hidupnya jauh lebih sukses: menjadi relawan politik, lalu bersiaplah duduk di kursi komisaris!

Atau, jika dipikir-pikir lagi, mungkin keluar dari kuliah dan menjadi sopir taksi adalah jalan terbaik untuknya. Kalau tidak, orang seperti ini bisa-bisa berakhir jadi pejabat sungguhan. Entahlah.

Masuk Surga ala Robin Hood

Cerita ketiga datang ketika mantan karyawan bank menceritakan pengalamannya beralih profesi menjadi asisten pribadi. Ia yang terbiasa dengan dunia perbankan yang kaku dan serba transparan, mendadak syok melihat betapa banyaknya urusan yang diselesaikan lewat jalan belakang di tempat kerja barunya.

Ketika hal ini ditanyakan kepada sang bos, jawaban yang didapat justru sebuah dilema moral.

"Pilih mana? Lewat jalan depan yang lurus tapi sedikit menolong orang, atau lewat jalan belakang di tepi jurang tapi bisa menghidupi banyak orang?"

Sebuah pembenaran yang sangat rapi. Di sini, pelanggaran aturan mendadak terasa heroik karena dibungkus dengan romantisasi ala Robin Hood: melanggar hukum demi menyelamatkan hajat hidup orang banyak.

Restu Sang Koruptor

Cerita terakhir tantang pemandangan menggelikan yang kadang kita lihat di layar kaca. Seorang koruptor tertangkap tangan, lalu dengan wajah lesu berucap, "Semua ini saya anggap sebagai cobaan dari Tuhan. Mohon dukungan doanya agar saya kuat menghadapi semua ini."

Logika yang luar biasa sesat. Dia yang serakah, tapi Tuhan yang disalahkan lewat label cobaan. Mereka tampaknya gagal membedakan mana ujian hidup dan mana hukuman akibat perbuatan kriminal sendiri.

Lebih parah lagi, masih sempat-sempatnya meminta dukungan doa dari rakyat yang dikorupsinya. Boro-boro mau mendoakan koruptor, memikirkan cicilan dan isi dompet sendiri saja sudah bikin kita pusing tujuh keliling.

Jangan Salahkan Kurikulum Kehidupan

Selama ini, kita sering berlindung di balik kalimat manis: "Semuanya sudah diatur oleh Tuhan." Namun, benarkah hidup kita se-pasrah itu?

Mari berkaca dari realitas tadi. Apakah masuk akal jika Tuhan memberikan rezeki lewat ponsel pelanggan yang tertinggal? Apakah adil menuduh Tuhan merestui jalan belakang dan suap demi menolong orang? Dan apakah menjadi koruptor adalah sebuah takdir yang sudah digariskan langit? Tentu tidak.

Bagaimana jika logikanya kita balik: Kitalah pemegang kemudi dan pengambil keputusan mutlak dalam hidup ini. Tuhan tidak mendikte setiap langkah kita; Dia hanya memberikan izin dan persetujuan atas jalan mana yang kita pilih untuk dilewati.

Di sinilah esensi kehidupan yang sebenarnya. Tuhan membekali kita dengan akal sehat, bukan untuk menjadi robot tanpa pilihan, melainkan agar kita berpikir dan belajar dari setiap konsekuensi yang lahir dari keputusan kita sendiri—entah itu berbuah manis atau pahit.

Hidup ini tak ubahnya sebuah sekolah. Jika ujian-ujian kecil saja kita gagal—seperti ujian kejujuran saat melihat HP tertinggal di warung, atau ujian integritas saat disodori uang pelicin—maka kita tidak akan pernah naik kelas. Kita akan terus berputar-putar di tingkat yang sama, menghadapi masalah yang itu-itu saja, hanya karena kita keras kepala dan menolak untuk belajar.

Banyak orang menghibur diri dengan kalimat, "Tuhan tidak akan menguji umat-Nya melebihi batas kemampuan." Namun, esensi masalahnya bukan di sana. Pertanyaan besarnya adalah: Apakah kita memang punya kemauan untuk naik kelas?

Sebab, jika kita terus-menerus memilih tinggal kelas karena gagal di ujian-ujian kecil, jangan kaget jika di kemudian hari Tuhan menurunkan ujian susulan yang jauh lebih berat dan menyakitkan—semata-mata untuk memaksa kita sadar dan akhirnya mau belajar.

Cermin Besar untuk Sebuah Bangsa

Konsep tinggal kelas ini tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga bagi sebuah negara. Dari level atas di gedung pemerintahan, level menengah di padatnya jalan raya, hingga level bawah di warung makan, polanya selalu seragam. Kita gemar menormalisasi pelanggaran, lalu merasionalisasinya demi alasan perut, kemanusiaan, dan kekuasaan.

Sejarah mengajarkan satu hal yang sangat tegas: ketika suatu bangsa menolak belajar dari kesalahan moralnya, bangsa tersebut tidak akan pernah melangkah maju.

Selama kita masih menganggap kelicikan sebagai sebuah kelincahan atau dalih Asian Value, selama kita masih merampas hak orang lain demi mengenyangkan perut sendiri, dan selama kita terus-menerus gagal lulus dari ujian integritas skala kecil, maka selama itu pula kita akan menjadi bangsa yang jalan di tempat. Kita hanya akan sibuk memadamkan kebakaran moral, yang apinya sebenarnya kita percikkan sendiri.

Pada akhirnya, ini bukan lagi sekadar cerita tentang seorang asisten pribadi, sopir taksi online, penjual warung, atau oknum koruptor. Ini adalah sebuah cermin besar yang diletakkan tepat di hadapan wajah kita semua.

Kini, pertanyaan besar itu kembali menyapa kita. Sebagai sebuah bangsa, jalan seperti apa yang mau kita pilih?

Apakah kita akan terus bergantung pada jalan belakang yang instan atau kita akhirnya berani mendisiplinkan diri lewat jalan depan, lulus dari ujian integritas yang sesungguhnya, dan benar-benar naik kelas?

Jawabannya tidak ada di langit, melainkan pada setiap keputusan kecil yang kita ambil hari ini.

Comments

Popular posts from this blog

Daftar Stasiun Kereta Api - Jalur Utara

Kalo di artikel sebelumnya kita bicara soal jalur selatan Kereta Api di Jawa, kali ini kita akan membahas mengenai jalur utara. Di jalur utara ini melintas kereta Argo Bromo Anggrek. Kereta ini dikenal sebagai raja di antara semua kereta api yang ada di Indonesia. Disebut raja karena ketika kereta api ini lewat, baik dari berlawanan arah atau arah yang sama, semua kereta akan berhenti untuk memberinya kesempatan berjalan terlebih dahulu. Mau tahu lintasan yang dilaluinya? Berikut ini disajikan nama-nama stasiun yang dilewati Kereta Api jika Anda bepergian menggunakan jalur utara (dari Gambir sampai dengan Surabaya Pasar Turi). Stasiun yang dicetak dengan huruf besar termasuk kategori staiun besar. GAMBIR Gondangdia Cikini Manggarai JATINEGARA Cipinang Klender Klender Baru Cakung Rawa Bebek Kranji BEKASI Tambun Cibitung Cikarang Lemah Abang Tanjung Baru Kedung Gedeh KERAWANG Klari Kosambi Dawuan CIKAMPEK Tanjung Rasa Pabuaran Pringkasep Pasir Bungur Cikaum Pagaden Baru Cipunegara Haurg...

Daftar Stasiun Kereta Api - Jalur Selatan

Kita mungkin kenal dengan Jakarta, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Madiun, Surabaya. Ya, semua itu adalah nama kota di Jawa. Tapi tahukah Kaliwedi, Butuh, Luwung Gajah, Kemiri, Bagor? Saya yakin tidak semua orang mengenalnya. Jika Anda sering bepergian dengan Kereta Api melewati jalur selatan maka Anda akan menemukan stasiun dengan nama di atas. Dengan mengetahui perkiraan letaknya maka Anda bisa mengetahui posisi Anda sedang berada di dekat kota mana. Berikut ini disajikan nama-nama stasiun yang dilewati Kereta Api jika Anda bepergian melalui jalur selatan (dari Pasar Senen sampai dengan Surabaya Gubeng). Stasiun yang dicetak tebak terbasuk kategori stasiun besar. Tut tut tut ... PASAR SENEN Gangsentiong Kramat Pondok Jati JATINEGARA Cipinang Klender Buaran Klender Baru Cakung Rawabebek Kranji BEKASI Bekasi Timur Tambun Cibitung Telaga Murni Cikarang Lemahabang Kedunggedeh KERAWANG Klari Kosambi Dawuan CIKAMPEK Tanjung Rasa Pabuaran Pringkasap Pasirbungur Cikaum Pagaden B...

Belajar dari Kegagalan Si Burung Besi Oranye

Hampir dua bulan ini sejumlah burung besi yang didominasi warna oranye dan berlogo manusia bersayap yang tengah siap terbang itu tidak menyambangi langit biru yang menjadi rute penerbangannya. Ya, sejak 19 Maret 2008 pesawat Adam Air memang tidak mengangkasa, akibat dibekukan izin terbangnya (operation specification). Selain itu, karena banyaknya persoalan yang kini masih dalam penyidikan hukum, Adam Air tinggal mengantongi tiket Airline Operating Certificate (Izin Operasional Terbang) yang terancam akan dicabut jika tiga bulan mendatang belum ada perbaikan atas masalah yang terjadi. Konsumen, regulator, pelaku industri penerbangan, dan karyawan PT Adam Sky Connection Airlanes (Adam Air) menuding persoalan kompleks menjadi biang keladi kejatuhan perusahaan itu. Padahal, kalau kita tengok ke belakang, perkembangan bisnis Adam Air cukup mengesankan. Lihatlah, di awal operasi pada 19 Desember 2003, Adam Air hanya menerbangkan dua pesawat Boeing 737 sewaan dari GE Capital Aviation Ser...